ROB DI RATMAYA
Oleh: Nono Warnono
Jaman akhir, banjir tidak hanya
terjadi di alam nyata. Dari sungai dan bengawan yang menerjang persawahan pun pemukiman warga.
Atau banjir bandang akibat derasnya curah hujan yang mencurah tak terkira. Era digital, banjir bah bisa menghempas manusia di ngarcapada dan mentsunami kehidupan di jagat
ratmaya. Sangkrah
sampah tak sebatas barang-barang bekas menggunung tak berguna, namun juga
sampah hoks dan akun-akun game pun situs judi yang menenggelamkan dalam manusia.
Buat pasangan rumah tangga Siti Robiyah dan Mohamad Robah yang hidup di kawasan pinggir Bengawan
Solo, diterjang banjir sudah biasa dilakoni setiap kali
musim penghujan datang. Mengusung barang-barang, menyelamatkan hewan ternak, hingga mengungsi
sekeluarga sudah jadi hal yang biasa dilakoni.Seolah musibah tersebut menjadi
rutinitas musiman yang biasa dilakoni. Meski bagi orang lain banjir tersebut
menjadi sebuah bencana yang nggegirisi. Musibah miris, yang harus diikhtiarkan
solusi serius agar dapat mengatasi kondisi.
Bahkan musim banjir tahun ini beberapa waktu lalu, rumahnya hampir
tenggelam total. Riwa-riwi boyongan mengungsi saat
banjir, hampir semua dapat diprediksi sebelumnya. Maka ketika tanda-tanda datangnya
banjir tiba, mereka berdua bersama anak-anaknya sudah mengantisipasi. Jika luapan air tidak menjangkau atap
genting rumah, alternatifnya bisa menempati ruangan bagian atas yang sengaja dibangun
seperti rumah gadang. Kecuali ternak
sapi yang harus dibawa di area yang lebih tinggi. Meski rumahnya dibangun dari
kayu seadanya dari lingkungan sekitar, tapi cukup tinggi dan aman untuk
menghindari luapan air banjir bengawan.
Namun jika dirasa luapan banjir begitu besar dan membahayakan keselamatan
jiwa, pilihannya adalah bergegas mengungsi ke keluarga terdekat di desa sebelah
yang tak terdampak banjir. Sekurang-kurangnya menuju area yang cukup tinggi
untuk mengungsi, meski dengan naungan dan piranti seadanya.
Tapi akhir-akhir ini yang meresahkan hati pasangan Robiyah dan Robah bukan hanya sekedar luapan air
banjir dari sungai dan bengawan Solo. Meski harus
pontang panting golung koming, nyatanya masih dapat dicarikan solusi terbaik, jalan keluar realistis untuk mengatasinya. Meski solusi
tersebut hanya untuk jangka waktu terbatas, karena pasca banjir surut harus
boyongan kembali ke kediaman semula.
Justru, hal yang menyesakkan dadanya bukanlah banjir tersebut di atas.
Namun lebih terhadap berbagai pengaruh negatif di jagat maya yang mengepung
kehidupan tiga anak lelakinya. Konten-konten sampah bak banjir yang menggulung
era dunia anaknya.
Berbagai aplikasi game, sampah hoks, hingga situs judi online
yang membuncah mengepung kehidupan ketiga buah hatinya. Rob raksasa kehidupan global digital yang setiap waktu
bisa menerjang pun menenggelamkan generasi era kini. Generasi yang begitu susah dientas, manakala
sudah diterjang kerasnya tsunami kehidupan.
Betapa tidak, Zainuddin, anaknya yang
terkecil dan masih duduk di sekolah dasar punya potensi dan bakat bersepakbola. Kuat fisiknya, lincah tingkah polahnya, cerdas otaknya, namun yang mengagetkan, saat bermain sepakbola
skornya dijakan taruhan berjudi. Ngabotohan sesama teman sepermainan, teman satu sekolahan. Meski hal ini hanya dianggap judi kecil-kecilan namun bagi Robiyah
dan Robah, ini adalah alarm bahaya. Ngabotohan atau bentuk judi sekecil apapun
adalah racun bagi anak yang cepat atau lambat akan merusak jiwa dan
kehidupan masa depan mereka.
Kondisi mengagetkan tersebut diketahui saat Robah dan Robiyah menerima surat panggilan dari sekolah mengenai kasus yang dialami
anaknya. Saat itu, keduanya bak disambar geledek. Dalam hatinya sempat tak percaya mengetahui realita tersebut. Kenyataan yang sedari awal tak disangka dan tanpa
tanda-tanda. Sepengatuhannya anak wuragil tersebut kelihatan tidak berperilaku neka-neka. Tidak nampak memiliki kebiasaan negatif yang
mengkhawatirkan. Ternyata eh ternyat yang terjadi secara perlahan, betapa
anak bungsunya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Belum rampung masalah anak waruju, anak keduanya
Sulaiman yang duduk di bangku SMA ternyata diam-diam juga terlilit masalah. Betapa anak usia sekolah, sudah mulai mengenal permainan slot judi online. Bahkan telah kecanduan. Kecanduan yang sudah pada situasi mengkhawatirkan.
Sebuah alarm, jika anaknya terkontaminasi
hingga kecanduan judol.
Baru terkonfirmasi jika selama ini
uang berbagai macam iuran di sekolah tak dibayarkan. Hingga pihak sekolah juga
memanggilnya untuk datang demi mengatasi persoalan. Berbagai uang
yang sudah diberikan tersebut, ternyata selama ini tak dibayarkan pada pihak sekolah karen dipakai
ngeslot. Berjudi online yang menjadikan hidupnya berubah total. Pendiam, murung dan lupa belajar, bahkan mengabaikan tugas-tugas sekolah yang seharusnya diselesaikan.
Pertengkaran kecil keluarga Robiyah
dan Robah mulai meningkat intensitasnya. Keharmonisan rumah tangga yang sedari awal dibangun
dengan suasah payah mulai tereduksi pelan-pelan. Masing-masing menjadi sensitif setiap kali
membincang keberadaan anak-anaknya. Buah hati yang digadang-gadang jadi orang hebat
pun sukses diberbagai bidang, ternyata telah salah jalan.
"Bune, ini bagaimana? Kok anak-anak kita sudah separah
itu kenakalannya?" Robah mengkonfirmasi istrinya.
"Sepengetahuan saya, anak-anak keadaannya baik-baik saja selama ini, Pak. Tidak kurang-kurang aku mengawasi dan
memenuhi kebutuhannya di rumah maupun di sekolah. Kalau ada masalah kecil, ya kita selesaikan
secara baik-baik. Jangan langsung menuding." Robiyah
membela diri.
"Ini bukan masalah kecil, Bune. Apa kau tidak
mengetahui anak-anak kita sudah terpapar judi online, ini sinyal tanda bahaya. Semua
tahu anak yang kecanduan judol,
pelan-pelan akan menghancurkan masa depannya. Kita telah abai, kita yang kurang membatasi pergaulan negatif yang dilakukannya!
Kita selama ini kurang perhatian dan hanya percaya dengan melihat lahirnya saja! Tidak mengawasi sampai hal-hal yang kecil.
Tidak mendalami kondisi kejiwaan mereka,”
"Jangan mudah menyalahkan. Jangan selalu menuding orang lain, Pak. Pertanyaannya, sampeyan sendiri telah melakukan apa
dengan keberadaan anak-anak kita. Anak-anak itu butuh perhatian dari kita
berdua. Tidak cukup hanya dengan mengandalkan peran ibu, tapi juga ayahnya!?" tuding Robiyah ketus.
"Selama ini aku memang pasrah, Bune. Tapi
ketahuilah kondisiku dan aktivitas saban hari. Aku sungguh sangat sibuk
di pekerjaan. Sehingga belum bisa turut mengawasi anak-anak sebagaimana mestinya,”
"Setidaknya saat malam sampeyan pulang ke rumah. Meluangkan waktu barang sejenak. Anak-anak seharusnya didekati. Diajak omong dari hati ke hati, bukan
malah pergi ngopi di warung kopi,"
Robah merasa terpojok oleh
omongan istrinya nan
bertubi-tubi. Sehingga lebih memilih
diam tak membantah pembicaraan yang serasa memanas. Telah menyadari dan paham bagaimana watak pun
karakter istrinya. Jika amarah meruah tak dapat dicegah. Jika nekat dikonfrontasi
bisa jadi apa yang telah dibangun susah payah jadi bubrah.
Berkali-kali rokok kretek yang dihisapnya dalam-dalam,dilepas. Berikut diletakkan
asbak di atas meja setelah menikmati
asapnya. Sebagai sebuah pertanda betapa hatinya sedang
resah gelisah dengan segala permasalahan yang meluap bak banjir rob sedang mengepungnya dari segala penjuru.
Kenyataan yang dapat ditebak dengan mudah endingnua. Betapa rumah tangga pasangan Robiyah dan Robah sedang berada pada tanda-tanda goyah. Seperti bahtera di tengah samodra yang tergulung banjir bah. Bak rob tsunami yang mengguncang biduk rumah tangga yang selama ini dirasa bahagia. Rumah tangga yang selama ini dibangun dengan keringat dan air mata. Meski hidup serba sederhana, untuk mengatakan hidup pas-pasan. Namun tak
mengurangi kualitas perjalanan keluarga yang sering disebut sebagai kelauarga sakinah mawaddah sarat rohmah. Namun kini segalanya serasa berubah.
Masalah-masalah yang tengah melingkupi anaknya nomor dua dan si bungsu
terkait ngabotohan atau perjudian adalah tsunami nan serasa menghantam keras dan
sulit terelakkan. Meski sebatas perjudian kecil-kecilan semacam tebak skor
pertandingan sepakbola, kondisi demikian tetap berpotensi menjadi kecanduan bermain
berjudi nan destruktif. Begitu juga anak panenggak atau anak keduanya yang
sudah ikut ngeslot, betapa berpotensi menghancurkan masa depannya sendiri.
Judi online yang sedang viral di
mana-mana adalah
penyakit kronis yang susah mencari obatnya. Di ranah
ratmaya maupun di dunia nyata, keduanya sama saja dampaknya. Gulita masa depan. Nir harapan. Bahkan negara kewalahan menanggulangi penyakit perjudian yang
bahkan sudah merambah ke segala dimensi kehidupan..
Kekhawatiran ini nyata, bukan ngayawara. Tersebab kasus-kasus nan telah
viral di Komdigi, hingga sinyal bahaya dari PPATK telah memberikan semacam
konfirmasi betapa masifnya judol telah merambah merajalela. Tidak hanya pesuka
judi pada umumnya yang kecanduan. Kini telah menyasar segala pelajar diberbagai
jenjang. Bahkan hingga para pejabat dan elit politik di segala strata semua terpapar
rob judol. Realita yang kadang diantara kita tak percaya, kejadian yang terasa
bak mimpi namun nyata adanya di depan mata.
Beda dengan judi konvensional
semacam remi, ceki, domino hingga bola glundung. Kelompok judi yang rerata masih bersekala terbatas dan melibatkan orang-orang tertentu. Terjadi pada penyuka
seni budaya dan ngabotohan atau judi sebagai selingan semata. Namun judol ini telah mengubah peradaban manusia. Bak
banjir rob nan meluap menenggelamkan semua tataran
sosial ekonomi dengan eskalasi yang luas tanpa batas.
Tak ayal jika Robiyah dan Robah
begitu was-was mendapati realita yang kini diahadapi. Sesuatu yang tak pernah terkira di
hari-hari sebelumnya. Anak-anaknya yang sedari semula dilihat sekilas tak
bermasalah ternyata telah terdampak begitu serius tergulung ombak judol. Bisa
dibayangkan betapa Robiyah dan Robah begitu terguncang jiwanya, atas buah
hatinya yang terlepas dari harapan pun cita-citanya.
Dus, sekali lagi ini adalah bak banjir rob masalah yang keras menghempas, namun belum dapat diatasi secara
kondusif. Banjir rob yang tak seperti banjir nyata pada umumnya, yang mesti menenggelamkan rumah seisinya, namun masih dirasa
tak seberapa. Karena banjir di dunia maya yang menenggelamkan anak-anaknya
adalah hal yang begitu
berbahaya. Bak tsunami di dunia virtual yang mengapungkan generasi anak-anaknya, namun susah dicarikan perahu untuk menyelamatkannya.
Di tengah kecamuk jiwa yang sarat
kegundahan, pasangan yang sebelumnya harmonis tiba-tiba berbuncah resah gelisah. Rasa khawatir itu muncul berkali-kali,
jangan-jangan putra sulungnya juga terkena paparan judol. Seperti dua anaknya yang telah terhempas jauh
di dunia perjudian.
"Bune, bagaimana dengan
kabar Nur Salim yang sudah lama berkuliah di kota?" tanya Robah tiba-tiba.
"Lho, kok malah tanya saya, Pak? Sejak kecil
kan dia lebih dekat dengan sampeyan. Aku selama ini jarang menelpon, saya pikir sudah sering berkomunikasi dengan
bapaknya," jawab Robiyah resah.
"Lho tiap bulan yang
menyerahkan uang kuliahnya kan sampeyan, Bune. Mestinya
sekalian mengabarkannya," bantah Robah.
Robiyah terdiam tak berkilah, ganti dia yang terpojok
oleh tudingan suaminya. Memang selama ini dia hanya menyerahkan sejumlah uang untuk kebutuhannya.
Baik menyerahkan langsung maupun transfer via bank. Tidak sempat mengabarkan
kondisinya. Karena kadung beranggapan ayahnyalah yeng memperhatikannya.
Oleh karena itu, tatkala tersudut saat berselisih Robiyah lebih memilih
meninggalkan lokasi perbincangan yang ujungnya tak mengenakkan. Namun tetap ada
rasa bersalah, karena selama ini kurang total menjaga anak-anaknya
kesayangannya. Meski semua sudah diberikan
pendidikan terbaik, namun di era disrupsi digital ini pendidikan di lembaga sekolah
atau kampus belum memberikan jaminan sepenuhnya. Di luar sekolah dan kampus, orang tua dalam keluarga tetap
punya kewajiban utama.
Meski demikian, ikhtiar memagari anak-anaknya dari berbagai pengaruh
negatif sejatinya sudah relatif bagus. Bagaimana tidak? Anaknya yang masih belajar di jenjang sekolah dasar, dimasukkan lembaga
sekolah dasar swasta berbasis agama. Dengan harapan menuntut ilmu di lembaga sekolah berbasis
agama, setidaknya menjadi tameng pengaruh hal-hal negatif karena sudah
diinternalisasi nilai-nilai ilmu agama. Ada pembinaan khlakul karimah yang
diharapkan menjadi penyaring berbagai pengaruh, menjadi benteng realita negatif
di tengah masyarakat global.
Begitu juga anak kedua yang sudah
duduk di jenjang SMA juga masuk sekolah swasta favorit berbasis agama. Bahkan
lembaga sekolah tersebut ada di dalam lingkungan pondok pesantren kenamaan dengan
pengawasan ketat. Pesantren dibina oleh ustadz-ustadz yang berkompeten. Pembelajaran kreatif
inovatif. Bahkan gedung bertingkat yang representatif. Namun nyatanya masih juga kebobolan pengaruh binal jagat digital. Hingga terkontaminasi dunia perjudian online yang menjadi larangan negara
dan agama.
Apa yang dikhawatirkan ternyata menjadi kenyataan pada akhirnya. Anak sulungnya yang kuliah di universitas negeri berbasis agama di Surabaya,
ternyata juga terlibat judi online. Bukan hanya sekedar pemain judol biasa,
tetapi terlibat dalam pengelolaan situs judol yang
cakupannya tidak hanya tataran nasional, melainkan
sudah merambah level internasional. Betapa terpukul hati Robiyah dan Robah. Ibarat sudah jatuh, tertimpa
tangga pula.
Tahunya Robah dan istrinya atas kejadian yang menimpa anaknya, adalah ketika
di suatu siang ada aparat kepolisian datang ke rumah. Membawa surat resmi pemberitahuan,
jika anaknya ditangkap polisi bersama kelompok pengelola judi online di sebuah
rumah kontrakan. Sebuah lokasi rumah yang dijadikan tempat mengendalikan bisnis
judi online yang sudah lama beroperasi.
Siti Robiyah dan Mohammad Robah benar-benar bak biduk nan tengah dihempas banjir bah. Rob air samudera jaman yang menggulung ketiga
anaknya. Ombak besar tsunami perjudian yang menenggelamkan si buah hati. Rob digital
yang gelombang dan daya hempasnya menghancurkan peradaban manusia beserta
pranata.
***
Nono Warnono : Ketua Sanggar Pamarsudi Ssatra Jawi Bojonegoro (PSJB).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar