Minggu, 11 Oktober 2026

BEDAH BUKU ANTOLOGI PUISI BUWUHAN "ANYELIR DI KAMAR PENGANTIN"

 BEDAH BUKU ANTOLOGI PUISI BUWUHAN "ANYELIR DI KAMAR PENGANTIN"

Bojonegoro, 10 Oktober 2026


Oleh: Nono Warnono


Momentum "palakrama" yang ditandai dengan "buwuhan puisi" yang diantologi sungguh sebagai sebuah ide "nyleneh" namun sarat makna pun cakrawala baru dunia sastra. Betapa sebuah kreatifitas yang terintegrasi dalam sebuah perhelatan janji suci anak manusia, ibarat sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Akan halnya perhelatan bedah buku "Anyelir di Kamar Pengantin" yang digagas oleh sastrawan Bojonegoro Agus Salim  sohibuddakwah bersama Timur Budi Raja dan Agus Sighro Budiono ini mampu melahirkan sehimpun puisi karya bersama yang diracik Penerbit Rumah Akar, digambari oleh Ekopeye Fibermans puisi-puisi yang bertriwikrama ketika dibedah, menjadikan forum "kegaduhan" saling silang pertengkaran perspektif membuka diskursus.  


Kehadiran sastrawan dari berbagai kota seperti Surabaya, Mojokerto,  Madura, Nganjuk, Yogjakarta, Bandung, hingga Banten mengilustrasi panggung yang didirikan di bekas rel sepur Bojonegoro di depan rumah Kang Hamengku Gati. Ada penyerahan buku secara simbolis dari pemangku hajat kepada sastrawan Bojonegoro Nono Warnono pangarsa Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB). Ada prolog Didik Wahyudi "Ekspreso dan Suara Suara  dari Kamar Pengantin, juga epilog "Utang di Bawah Tarub" Agung DePe 


Dus, bagi sastrawan, mencurah ide dalam sebuah karya adalah sebuah keniscayaan agar tidak dalam kejumudan namun mobilitas piranti sastra dalam dirinya terus bertumbuh kembang. Manakala karya itu dipanggungkan sungguh menjadi momentum sarat makna. Seperti sajian kambing guling yang dipadu bacaan puisi Didik Wahyudi, Timur Budi raja, Abdul Jalil, Gampang Prawoto , Herry Abdi Gusti , Agus Sighro Budiono adalah sebuah kesempurnaan perjumpaan ide.


Kamis, 08 Oktober 2026

Sajak Momentum

 Nono Warnono:


MOMENTUM


Merenung adalah niscaya

Saat dinamika mengemuka

Interaksi bertumbuhkembang

Bukan sebatas eufemisme

Nan kebablasan


Menimbang kehalusan kata

Adalah adab tatakrama 

Bungkus penghormatan

Mereduksi sarkasme

Dalam keriuhan ruang publik

Yang kehilangan m


akna arus utama


Jangan lagi menyamarkan fakta

Meski dengan untai kata

Curahkan halus atau kasar

Apa adanya dengan ketegasan moral

Santun bahasa tegas makna

Menjadi momentum niscaya


Tuban, Oktober 2026

Menelisik Anugerah Sutasoma Balai Bahasa Jatim 2026

 MENELISIK ANUGERAH SUTASOMA 

Oleh: Nono Warnono


Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBPJT) konsisten merawat bahasa dan sastra dengan berbagai ikhtiar. Salah satunya dengan mengapresiasi karya sastra bagi para pegiat bahasa dan sastra dalam agenda acara Anugerah Sutasoma meski dikemas dalam nuansa efisiensi tanpa mengurangi esensi makna. 


Betapa acara yang diselenggarakan di gedung M. Tabrani Lantai Tiga Balai Bahasa Jawa Timur itu menjadi momentum bertemunya BBPJT, Badan Bahasa dan para pegiat yang menerima penghargaan terlihat sangat antusias membedah ekosistem bahasa dan sastra kekinian. Berbagai perspektif mengemuka mewarnai diskusi menarik tersebut. Namun sayang, karena terbatasnya waktu diskusi harus diakhiri sebelum curahan pendapat tuntas semuanya. 


Dalam Diskusi tersebut, Dr. Bram mengeluhkankan tereduksinya minat baca dan karya sastra Indonesia kekinian yang terdesak oleh dinamika jaman. Shoim Anwar, narasumber lainnya membincang energi yang tak akan hilang karena akan menyesuaikan jaman dalam berbagai bentuk. Sementara Prof. Dr. Darni mengemukakan eksistensi bahasa dan sastra Jawa yang terus bertumbuh kembang dengan ditandai masih eksisnya komunitas komunitas bahasa dan sastra, sempulurnya udayana bahasa Jawa, dan masih lestarinya apresiasi pemerintah untuk pegiat sastra Jawa. Muara diskusi dipungkasi oleh Prof. Dr. Djoko Saryono yang merawat optimisme ekosistem yang diupayakan kondusif dalamenjaga dan menumbuhsuburkan bahasa dan sastra era kini dan mendatang. Banyak parameter dan realita yang nyengkuyung harapan guru besar tersebut. 


Acara yang dihadiri oleh Dr. Ganjar dari Badan Bahasa Jakarta dan Kepala BBPJT Puji Retno Hardiningtyas tersebut juga memberi ruang para peserta untuk mencurahkan "uneg-uneg". Mardi Luhung yang juga menerima Anugerah Sutasoma mengemukakan ikhtiar-ikhtiar kecil dilingkungannya, namun punya dampak besar dalam menumbuhkembangkan bahasa dan sastra. Nono Warnono yang juga Ketua Pa marsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) mengemukakan optimisme sekaligus memaknai regulasi dan apresiasi pemerintah sebagai hal yang patut dihargai. 


Wabakdu, eksistensi bahasa dan sastra sejatinya bukan sebatas alat komunikasi, namun lebih sebagai legacy pun juga kearifan lokal (local wisdom) yang membentuk warga bangsa yang berkepribadian. Dan Anugerah Sutasoma menjadi salah satu ikhtiar menyalakan lilin penerang. 


Surabaya, 7 Oktober 2026


Selasa, 22 September 2026

PUISI NONO WARNONO

 TRESNA GUSTI BUMI DALAN ROHANI


Katresnan kuwi datan mung kabiwara

Rasa iku kaejawantah maneka cara

Bisa rerangken ukara lungit kaweca

tanjebing smara lumantar tunggal raga

kang kaiket ing maneka pranatan sajuga


Katresnan iki ombaking segara jiwa

kang kaeja wiwit pedisir sinempyok rasa

kang jumlegur engga prpunton cakrawala

nalika camar-camar mabur kekiter lelana 

bebadra marang dalan rohani Kang Kuwasa


Katresnan kuwi metung tumiyup angin gunung

kang tan kuwawa kawilang nadyan ginunggung

cinipta gumelaring bumi dening Kang Maha Agung 

kita mung kastu nikmating swasana kang luhung

manungsa sukur mawa kupiya  kinarya tan duwung


Yogjakarta, 20 September 2026


ARAS RELIGIUSITAS

 ARAS RELIGIUSITAS


Penghambaan tak meski ritual

atau hamparan ibadah seremonial

pengesaan tak hanya ansich tektual

musti terejawantah dalam kontektual

terlebih dalam  kehidupan semakin binal


Jalan rohani tak melulu di mihrab dan saf

di mana dan siapapun Sahabat atau mualaf

keterasingan bisa di masjid karena khilaf

di gunung samodra lungit pangit nan insaf

itulan untaian santiaji para ulama khalaf shalaf


Pengembaraan hati jiwa dalam langkah

mengeja keagungan marwah yang tercurah

atas kilau cahaya iman Illahi nan mencurah

spiritualitas tuntas dalam selaksa berkah

hidup kehidupan dipuisikan meski sebilah


Semarang, 13 September 2026


Kamis, 17 September 2026

MENGULIK AMBAL WARSA KE 44 PSJB

 Peringatan Ambal Warsa (Hari Ulang Tahun) ke-44 Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) diadakan pada tanggal 22 Juli 2026 di Waroeng Bucu Coffee (WBC), Bojonegoro dengan menghadirkan narasumber Widodo Basuki, redaktur Majalah Jaya Baya dan Kukuh Setya Wibawa Redaktur Udayana Panjebar Semangat. Dalam paparannya, narasumber pertama yang biasa dipanggil Kaji Wid membedah buku karya bersama pengurus dan anggota PSJB dengan judul "Kembang Panguripan". Betapa pentingnya teeus berkarya, terutama karya berbahasa Jawa. Sekaligus narasumber memberikan catatan catatan dalam karya di buku antologi tersebut. Sedang narasumber Kukuh Setya Wibawa memaparkan, bagaimana menulis untuk dikirim ke majalah beebahasa Jawa.

Pada Usia Nyaris Separuh Abad (berdiri 6 Juli 1982), PSJB memperingati 44 tahun pengabdian dalam merawat dan melestarikan (nguri-uri) sastra serta bahasa Jawa. Awal mula beedirinya PSJB diinisiasi oleh: JFX Hoery, Jayus Pete, Yes Ismie Surya Atmaja, Yusuf Susilo Hartono, M.Makloem, Sri Setya Rahayu. 


Kiprah PSJB . "Selama 44 tahun kiprah PSJB sudah melangkah jauh. Agenda besar seperti mengadakan Festival Keroncong, Mengisi acara di TVRI, Lomba menulis cerkak geguritan dan cerita rakyat, Temu Sastrawan Jawa Se Indonesia 1983, Kemah Budaya,Konggres Sastra Jawa III 2011 di Jono hingga menerbitkan buku sastra secara rutin dan buku ajar mulok "Matoh Basa," kata Nono Warnono selaku Ketua PSJB. Sedangkan prestasi yang sudah diraih, kata Nono, adalah Anugerah Sutasoma 8 orang dan Hadiah Rancage 6 orang. Serta penghargaan lain yang tak terbilang.

Dukungan Pemerintah dalam momentum tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro, Hj. Dra. Nurul Azizah, MM hadir dan mendorong penguatan kurikulum muatan lokal bahasa Jawa di sekolah-sekolah untuk menjaga identitas budaya. Wakil Bupati mengharapkan PSJB bersama dengan Dinas Pendidikan Bojonegoro menyusun buku bahan ajar mulok Bahasa Jawa untuk SD hingga SMP 

Kehadiran Mitra Strategis: Acara ini turut dihadiri oleh perwakilan dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, para sastrawan, budayawan, akademisi, serta pegiat seni. Sastrawan dan Budayawan dari PSJB sebagian hadir seperti sastrawan Hery Abdi Gusti, Gampang Prawoto, Emi Sudarwati, JMV Sunaryo, Agus Sigro Budiono, Safandi Mardinata, Totok Martono, Lestari Sasha Malika, Hadi Pamungkas, Ajun Pujanganom, dan sebagainya. Sedangkan budayawan PSJB seperti Pakdhe Uban, Subekti, Ali Safaat, Hery Nugrogo, Sulistyowati, S.Pd.,Kustini, dan lain lain. Tidak ketinggalan sesepuh PSJB juga hadir: JFX Hoery dan Sunawan Presdiana.  Juga hadir peneliti dari Yogyakarta Drs. Danu Priyo Prabowo yang membaca gurit dan memberikan orasi terkait kehati hatian pengaruh Artificial Intelegence (AI) dalam karya sastra.

Rangkaian Acara: Diisi Acara yang dipandu oleh Hanung tersebut diawali dengan pembacaan gurit oleh para siswa siswi SD, SMP, SMA dengan penuh antusias seeta penjiwaan. Sedangkan sarasehan sastra bertema "Peran Pemangku Kebijakan dalam Pengembangan dan Pelestarian Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa", bedah buku, dimoderatori oleh sastrawan dan budayawan Arieyoko. Acara yang ditandai dengan penandatanganan integritas tersebu diserrai Hastungkara oleh Gampang Prawoto.

Berita Temu Penulis di UNUGIRI Kamis,17 September 2026

 TEMU PENULIS NONO WARNONO 

Di UNUGIRI BOJONEGORO


Acara "Temu Penulis" yang diinisiasi oleh Mastumapel com melalui pendirinya Nanang Fahrudin, menghadirkan narasumber Nono Warnono dari Sanggar Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro diikuti oleh sekitar 70 peserta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bojonegoro, sepeeti IKIP PGRI Bojonegoro, Unigoro, Unugiri dan sebagainya diselenggarakan  di Unugiri Bojonegoro pada Kamis, 17 September 2026.

Acara yang dimoderatori oleh Usman Roin, dosen Unugiri ini, mengangkat tema "Sastra Jawa tak akan Mati" sekaligus memberikan kiat bagaimana menulis geguritan bagi para pemula terutama generasi muda. Antusiasme para peserta sangat terlihat dari banyaknya pertanyaan ketika sesi diskusi.

Nono Warnono yang juga Maestro Bahasa Jawa di Balai Bahasa Propinsi Jawa Timur (BBPJT) dan Ketua Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro ini menyampaikan beberapa kiat menulis  Untuk bisa menjadi seorang penulis, kuncinya adalah membaca. Membaca karya sebanyak-banyaknya. Segera tulis manakala ada ide dengan media apapun.

Di akhir sesi, Nono Warnono dan Peepustakaan Unugiri membagikan hadiah buku pagi para penanya yang antusias mewarnai acara diskusi sastra. Sastra Jawa tak akan mati manakala suku Jawa masih eksis dalam kehidupan hingga kini.

(Nono Warnono)