MENELISIK ANUGERAH SUTASOMA
Oleh: Nono Warnono
Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBPJT) konsisten merawat bahasa dan sastra dengan berbagai ikhtiar. Salah satunya dengan mengapresiasi karya sastra bagi para pegiat bahasa dan sastra dalam agenda acara Anugerah Sutasoma meski dikemas dalam nuansa efisiensi tanpa mengurangi esensi makna.
Betapa acara yang diselenggarakan di gedung M. Tabrani Lantai Tiga Balai Bahasa Jawa Timur itu menjadi momentum bertemunya BBPJT, Badan Bahasa dan para pegiat yang menerima penghargaan terlihat sangat antusias membedah ekosistem bahasa dan sastra kekinian. Berbagai perspektif mengemuka mewarnai diskusi menarik tersebut. Namun sayang, karena terbatasnya waktu diskusi harus diakhiri sebelum curahan pendapat tuntas semuanya.
Dalam Diskusi tersebut, Dr. Bram mengeluhkankan tereduksinya minat baca dan karya sastra Indonesia kekinian yang terdesak oleh dinamika jaman. Shoim Anwar, narasumber lainnya membincang energi yang tak akan hilang karena akan menyesuaikan jaman dalam berbagai bentuk. Sementara Prof. Dr. Darni mengemukakan eksistensi bahasa dan sastra Jawa yang terus bertumbuh kembang dengan ditandai masih eksisnya komunitas komunitas bahasa dan sastra, sempulurnya udayana bahasa Jawa, dan masih lestarinya apresiasi pemerintah untuk pegiat sastra Jawa. Muara diskusi dipungkasi oleh Prof. Dr. Djoko Saryono yang merawat optimisme ekosistem yang diupayakan kondusif dalamenjaga dan menumbuhsuburkan bahasa dan sastra era kini dan mendatang. Banyak parameter dan realita yang nyengkuyung harapan guru besar tersebut.
Acara yang dihadiri oleh Dr. Ganjar dari Badan Bahasa Jakarta dan Kepala BBPJT Puji Retno Hardiningtyas tersebut juga memberi ruang para peserta untuk mencurahkan "uneg-uneg". Mardi Luhung yang juga menerima Anugerah Sutasoma mengemukakan ikhtiar-ikhtiar kecil dilingkungannya, namun punya dampak besar dalam menumbuhkembangkan bahasa dan sastra. Nono Warnono yang juga Ketua Pa marsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) mengemukakan optimisme sekaligus memaknai regulasi dan apresiasi pemerintah sebagai hal yang patut dihargai.
Wabakdu, eksistensi bahasa dan sastra sejatinya bukan sebatas alat komunikasi, namun lebih sebagai legacy pun juga kearifan lokal (local wisdom) yang membentuk warga bangsa yang berkepribadian. Dan Anugerah Sutasoma menjadi salah satu ikhtiar menyalakan lilin penerang.
Surabaya, 7 Oktober 2026