Kamis, 08 Oktober 2026

Sajak Momentum

 Nono Warnono:


MOMENTUM


Merenung adalah niscaya

Saat dinamika mengemuka

Interaksi bertumbuhkembang

Bukan sebatas eufemisme

Nan kebablasan


Menimbang kehalusan kata

Adalah adab tatakrama 

Bungkus penghormatan

Mereduksi sarkasme

Dalam keriuhan ruang publik

Yang kehilangan m


akna arus utama


Jangan lagi menyamarkan fakta

Meski dengan untai kata

Curahkan halus atau kasar

Apa adanya dengan ketegasan moral

Santun bahasa tegas makna

Menjadi momentum niscaya


Tuban, Oktober 2026

Menelisik Anugerah Sutasoma Balai Bahasa Jatim 2026

 MENELISIK ANUGERAH SUTASOMA 

Oleh: Nono Warnono


Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBPJT) konsisten merawat bahasa dan sastra dengan berbagai ikhtiar. Salah satunya dengan mengapresiasi karya sastra bagi para pegiat bahasa dan sastra dalam agenda acara Anugerah Sutasoma meski dikemas dalam nuansa efisiensi tanpa mengurangi esensi makna. 


Betapa acara yang diselenggarakan di gedung M. Tabrani Lantai Tiga Balai Bahasa Jawa Timur itu menjadi momentum bertemunya BBPJT, Badan Bahasa dan para pegiat yang menerima penghargaan terlihat sangat antusias membedah ekosistem bahasa dan sastra kekinian. Berbagai perspektif mengemuka mewarnai diskusi menarik tersebut. Namun sayang, karena terbatasnya waktu diskusi harus diakhiri sebelum curahan pendapat tuntas semuanya. 


Dalam Diskusi tersebut, Dr. Bram mengeluhkankan tereduksinya minat baca dan karya sastra Indonesia kekinian yang terdesak oleh dinamika jaman. Shoim Anwar, narasumber lainnya membincang energi yang tak akan hilang karena akan menyesuaikan jaman dalam berbagai bentuk. Sementara Prof. Dr. Darni mengemukakan eksistensi bahasa dan sastra Jawa yang terus bertumbuh kembang dengan ditandai masih eksisnya komunitas komunitas bahasa dan sastra, sempulurnya udayana bahasa Jawa, dan masih lestarinya apresiasi pemerintah untuk pegiat sastra Jawa. Muara diskusi dipungkasi oleh Prof. Dr. Djoko Saryono yang merawat optimisme ekosistem yang diupayakan kondusif dalamenjaga dan menumbuhsuburkan bahasa dan sastra era kini dan mendatang. Banyak parameter dan realita yang nyengkuyung harapan guru besar tersebut. 


Acara yang dihadiri oleh Dr. Ganjar dari Badan Bahasa Jakarta dan Kepala BBPJT Puji Retno Hardiningtyas tersebut juga memberi ruang para peserta untuk mencurahkan "uneg-uneg". Mardi Luhung yang juga menerima Anugerah Sutasoma mengemukakan ikhtiar-ikhtiar kecil dilingkungannya, namun punya dampak besar dalam menumbuhkembangkan bahasa dan sastra. Nono Warnono yang juga Ketua Pa marsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) mengemukakan optimisme sekaligus memaknai regulasi dan apresiasi pemerintah sebagai hal yang patut dihargai. 


Wabakdu, eksistensi bahasa dan sastra sejatinya bukan sebatas alat komunikasi, namun lebih sebagai legacy pun juga kearifan lokal (local wisdom) yang membentuk warga bangsa yang berkepribadian. Dan Anugerah Sutasoma menjadi salah satu ikhtiar menyalakan lilin penerang. 


Surabaya, 7 Oktober 2026