BEDAH BUKU ANTOLOGI PUISI BUWUHAN "ANYELIR DI KAMAR PENGANTIN"
Bojonegoro, 10 Oktober 2026
Oleh: Nono Warnono
Momentum "palakrama" yang ditandai dengan "buwuhan puisi" yang diantologi sungguh sebagai sebuah ide "nyleneh" namun sarat makna pun cakrawala baru dunia sastra. Betapa sebuah kreatifitas yang terintegrasi dalam sebuah perhelatan janji suci anak manusia, ibarat sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Akan halnya perhelatan bedah buku "Anyelir di Kamar Pengantin" yang digagas oleh sastrawan Bojonegoro Agus Salim sohibuddakwah bersama Timur Budi Raja dan Agus Sighro Budiono ini mampu melahirkan sehimpun puisi karya bersama yang diracik Penerbit Rumah Akar, digambari oleh Ekopeye Fibermans puisi-puisi yang bertriwikrama ketika dibedah, menjadikan forum "kegaduhan" saling silang pertengkaran perspektif membuka diskursus.
Kehadiran sastrawan dari berbagai kota seperti Surabaya, Mojokerto, Madura, Nganjuk, Yogjakarta, Bandung, hingga Banten mengilustrasi panggung yang didirikan di bekas rel sepur Bojonegoro di depan rumah Kang Hamengku Gati. Ada penyerahan buku secara simbolis dari pemangku hajat kepada sastrawan Bojonegoro Nono Warnono pangarsa Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB). Ada prolog Didik Wahyudi "Ekspreso dan Suara Suara dari Kamar Pengantin, juga epilog "Utang di Bawah Tarub" Agung DePe
Dus, bagi sastrawan, mencurah ide dalam sebuah karya adalah sebuah keniscayaan agar tidak dalam kejumudan namun mobilitas piranti sastra dalam dirinya terus bertumbuh kembang. Manakala karya itu dipanggungkan sungguh menjadi momentum sarat makna. Seperti sajian kambing guling yang dipadu bacaan puisi Didik Wahyudi, Timur Budi raja, Abdul Jalil, Gampang Prawoto , Herry Abdi Gusti , Agus Sighro Budiono adalah sebuah kesempurnaan perjumpaan ide.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar