Kamis, 10 September 2026

 


MENELISIK DINAMIKA JAMIYAH NU

Oleh Nono Warnono

 

Konflik di tubuh Jamiyah Nahdlatul Ulama belakangan ini bak permainan tarik tambang. Menarik lawan mundur ke belakang tak henti silih berganti. Penonton antusias dalam suasana gegap gempita menyorakinya.

Kegaduhan dan gegeran yang begitu mengemuka di berbagai media arus utama dan sosial media (medsos). Tarik menarik statement yang diwarnai saling silang dan saling serang di aras elite-elitnya. Antara Rais Aam versus Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Rais Syuriyah mendeadline Ketum PBNU mundur dalam jangka waktu tiga hari, sebaliknya PBNU ngotot menolak dengan sejuta argumentasi serta pembenaran diri lewat berbagai justifikasi.

Konflik di dalam organisasi Islam terbesar di Indobesia tersebut konon dipicu oleh keterlibatan komunitas pro Zionis Israel yang diinisiasi oleh Ketua PBNU. Keterlibatan Zionis Israel dalam Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama dinilai melanggar nilai ajaran Ahlussunah wal Jamaah An-Nahdliyah dan Qonun Azasi NU. Pemicu lain adalah manajemen keuangan organisasi yang dianggap tidak prudent dalam menyampaikan  laporan pertanggungjawaban. Hal itu muncul setelah Rais Syuriah menyewa akuntan publik untuk mengaudit pembukuan keuangan di PBNU.

Namun dua alasan yang mengemuka tersebut ditengarai oleh banyak pihak hanya sebagian kecil saja, selebihnya, biang keroknya adalah pengelolaan konsesi tambang. Sejatinya kondisi ini berawal dari pemerintah periode terdahulu yang menjanjikan pengelolaan konsesi tambang kepada ormas keagamaan. Disaat itu sebelum regulasi dieksekusi oleh pemerintah,  ormas-ormas sudah ribut pro dan kontra antara yang menolak dan menyetujuinya. Namun pada akhirnya pemerintah mengesahkan regulasi dan NU sendiri menerima pengelolaan konsesi tambang tanpa basa-basi.

            Ormas keagamaan yang lebih dikenal sebagai Islam Tradisional tersebut mendapa konsesi pengelolaan tambang di Kutai Timur. Kondisi ini yang  membawa NU pada pusaran bohir bisnis tambang dengan para pengusaha. Memaksa deal-deal bisnis yang tidak ada kaitannya dengan masalah nahdliyah. Lebih berkutat pada masalah bisnis semacam jabatan direktur, komisaris, hingga pimpinan pengelola koperasinya. Ujung-ujungnya muncul ketidakpuasan dan ketidakpercayaan yang menimbulkan konflik berebut kekuasaan.

Terbuktilah apa yang dulu digelisahkan orang, bahwa konsesi tambang terhadap ormas keagaaan akan menuai masalah. Benar saja, betapa konsesi tambang menjadi bumerang, tidak membawa nuansa tenang tetapi malah kepengurusan NU tumbang. Pengurus wilayah pengurus cabang bimbang, akar rumput meradang. Betapa ironis, jamiyah yang meniscayakan mengurus jamaah dalam berkhidmah malah congkrah. Menafikan peribahasa Jawa, "Crah agawe bubrah, rukun agawe santosa".

 

Jamaah Nahdliyah Berharap Elite Jamiyah Islah

Ada tudingan ketika PBNU menerima konsesi tambang, PBNU berubah dari kekuatan moral (moral force) menjadi bisnis partner pemerintah. Tanfidziah telah dinilai tersesat jauh dari khitah 1926. NU bukanlah BUMN, NU adalah jamiyah ulama. Kini NU dalam kondisi state of emergency atau keadaan darurat, kendali organisasi ada di tangan Rais Syuriah. Ada dalil dalam NU yaitu "Darul mafasid muqaddamun, ala jalbil mashalih", menolak kemudaratan atau kerusakan harusnya didahulukan daripada meraih kemaslahatan atau kebaikan.

Dinamika konflik internal tersebut sangat disayangkan oleh berbagai pihak, terutama dari internal NU. Karena konflik internal seharusnya dapat diselesaikan dengan cara bertabayun untuk mengklarifikasi. Bukan saling meniadakan. Karena islah adalah budaya kiai di NU, setelah gegeran cepat-cepat ger-geran.

            Namun yang terjadi saat ini, konflik tersebut justru menyeret kelompok NU menjadi dua kubu yang berhadapan. Ada yang memihak salah satu dengan menghujat para kiai sepuh, begitu juga sebaliknya. Gegeran dua kubu yang dalam bahasa jawa disebut sebagai "rebut balung tanpa isi". Perdebatan keras yang tak ada manfaatnya, lebih banyak madharatnya. Perseteruan yang meninggalkan adabiyah dan tatakrama, sungguh realita yang sangat menyedihkan.

Sekali lagi, mensikapi gegeran elite ini, kebanyakan pengurus NU di daerah menghendaki islah antara kedua kubu agar suasana tidak semakin parah. Setelah kisruh saling pecat-memecat untuk mencari legitimasi. Impeachment terhadap PBNU yang dimaksud agar jamiyah dan jamaah nahdliyin kembali kepada khitah keulamaannya. Meniscayakan NU bukan menjadi masalah namun harus menjadi solusi umat Islam.

Dus, pengurus wilayah, daerah, banom organisasi underbow NU harus segera menjadikan situasi ini untuk belajar banyak dan berdiskusi dengan ulama-ulama yang memang punya otoritas keilmuan dan penghayatan ke-NU-an yang ori ketimbang NU-NU pragmatis yang memberikan kesan buruk misi dakwah.

Manakala tidak segera islah, konflik internal PBNU dapat berimbas pada eksternal organisasi, berpengaruh pada soliditas. Faksi-faksi berpeluang akan semakin meruncing. Bahkan friksi atau perpecahan antar faksi dapat meluas. Meluasnya friksi antar faksi  dapat berdampak pada akar rumput. Nahdliyin di grassroots akan terbelah sesuai faksi-faksi yang berseteru. Konflik internal yang berkepanjangan akan berdampak secara eksternal. Akan mengganggu stabilitas politik nasional, tersebab NU adalah ormas terbesar di Indonesia.

Benturan dua kutub, ambisi global dan tradisi penjaga moral, ledakan akumulasi variabel mematikan sikap Ketum PBNU yang terlalu ramah pro Zionis, jebakan konsesi tambang yang mematikan daya kritis, dan rekam jejak elite PBNU yang sering kontroversial dalam manuver politik yang dipandang menabrak khitah harus lekas diakhiri.

NU berada di persimpangan jalan. Apakah take over ini akan berujung pada muktamar luar biasa atau akan terjadi perpecahan berkepanjangan. NU terlalu besar untuk dibiarkan karam oleh ambisi segelintir elite. Konflik ini adalah ujian kedewasaan, apakah NU akan kembali ke khittah moral bangsa atau stempel kekuasaan. Nahdliyin ingin melihat, bukan siapa yang menang tapi yang peduli pada umat.

 

Nono Warnono, Ketua Lemabaga Ta’lif wan Nasyr MWCNU Baureno Bojonegoro.

 

 

 

 

 

 

 

Alamat Rumah:

Perumahan gajah Indah Blok O No.18-19 Baureno Bojonegoro 62192

Tidak ada komentar:

Posting Komentar