NAHDLATUL ULAMA
ERA DIGITAL
Kiprah
PCNU Bojonegoro dan MWCNU Baureno
Dalam
Perspektif Sejarah
TIM
LEMBAGA TA’LIF WAN NASYR (LTN)
MWCNU BAURENO BOJONEGORO
SEKAPUR SIRIH PENULIS
Sebagai sebuah ikhtiar, hadirnya buku “Nahdlatul Ulama Era Digital: Kiprah PCNU
Bojonegoro dan MWCNU Baureno dalam Perspektif Sejarah” ini niscaya patut disyukuri
karena Allah SWT telah memberikan kesempatan kepada tim penulis untuk
merealisasikannya. Sebuah upaya menumbuhkembangkan budaya literasi yang digagas oleh Lembaga Ta’lif wan Nasyr
Nahdlatul Ulama MWCNU Baureno atas support Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama
(PCNU) Bojonegoro.
Kehadiran buku ini juga merupakan upaya pendokumentasian kiprah para ulama
atau tokoh-tokoh yang peduli akan dakwah Islam Ahlussunah wal Jama’ah dulu dan
kini, sebagai sebuah legacy.
Selebihnya tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan bacaan dan pengetahuan
generasi sekarang tentang jejak para pejuang Islam Aswaja yang totalitas mendedikasikan
jiwa raga tanpa berharap imbalan materi maupun jabatan apapun.
Penulis berpandangan, manakala jejak kiprah para pejuang Aswaja, sekecil
apapun, manakala tidak ditulis (didokumentasikan) niscaya catatan inspiratif sarat
keteladanan tersebut akan terkubur waktu tertelan zaman. Karena momentum tersebut amat historis, era penuh perjuangan, hingga
era kekinian nan dinamis dan merubah
banyak tatanan sosial.
Perlu diketahui oleh pembaca, bahwa isi buku ini tidak hanya murni catatan
sejarah dan kiprah an sich, namun didalamnya juga terdapat cerita rakyat yang
masih butuh dirunut kebenaran sejarahnya, meski telah merujuk beberapa
referensi. Bimakna, lebih mengambil
nilai perjuagan dakwah para pendahulu yang penting diteladani demi membangun
masa depan nan gemilang.
Pendek kata buku ini hendak merawat sejarah, mengambil nilai perjuangan
pengkhidmat, sebagai bekal menumbuhkembangkan Aswaja menyongsong era penuh
tantangan. Seiring hadirnya revolusi
teknologi digital dan belantara media sosial. Karena sesungguhnya perjuangan
para tokoh ulama Aswaja di Bojonegoro, wabil khusus Baureno dan
sekitarnya memiliki tantangan tersendiri. Perjuangan dan khidmat yang pada
akhirnya berkontribusi dalam mengibarkan panji-panji Aswaja di
Kabupaten Bojonegoro.
Terima kasih kepada para mahaguru, sesepuh, masyayyikh dan dzurriahnya yang
berkenan diwawancarai, serta memberikan
kisah-kisah inspiratif. Sukron katsir, kepada Direktur Eksekutif NU Online PBNU
Gus Mahbib Khoiron yang telah memberikan sambutan penuh ghirah. Begitu juga,
matur nuwun untuk Ketua Tanfidziyah PCNU Bojonegoro KH.dr Kholid Ubaid, Sp.PD
yang berkenan memberikan pengantar, serta gunging panuwun kepada Ketua MWCNU
Baureno KH.Arinal Haq bersama jajaran Pengurus, Lembaga dan Banom.
Sekecil apapun, mudah-mudahan buku ini dapat memberikan manfaat bagi para
pembaca pada umumnya dan pengkhidmat Aswaja pada khususnya. Alfakir mohon maaf
manakala ada kesalahan dalam penulisan nama sebutan hingga pangkat dan jabatan.
Semua itu bukan karena faktor kesengajaan namun lebih karena ketidaktahuan.
Wabakdu, segala kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan
sehingga dapat menyempurnakan buku
sederhana ini di kemudian hari.
Wassalaamu ‘alaikum wr wb.
Bojonegoro, 7 Januari 2026
Nono Warnono
Ketua Tim
Penulis
PENGANTAR
PENGURUS CABANG
NAHDLATUL ULAMA BOJONEGORO
Assalaamu 'alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Teriring curahan rasa syukur kepada
Allah SWT menyertai terbitnya buku yang ditulis oleh Tim Lambaga Ta'lif wan
Nasr MWCNU Baureno dengan mengangkat kembali sejarah lahir, kiprah dan arah
Nahdlatul Ulama (NU) ke depan.
Mengangkat kembali sejarah lahirnya
NU dimaknai sebagai ikhtiar mengambil nilai-nilai perjuangan dan ghirah
berkhidmat di setiap era, untuk penyemangat memperjuangkan paham Aswaja dimasa
kini dan mendatang. Sekaligus menginternalisasi (menanamkan) nilai, jangan
sampai nahdliyin melupakan sejarah perjuangan para pengkhidmat NU di masa lalu,
jangan sampai generasi kini dan mendatang ahistoris (anti sejarah).
Para muassis seperti KH.Hasyim
As’ari, KH. Wahab Chasbullah, KH.Bisri Syansuri dan para pendiri serta pejuang
di masa lalu adalah figur-figur peletak dasar paham Ahlussunah wal Jama’ah yang
sejarahnya senantiasa menginspirasi pengkhidmat Aswaja kini dan mendatang.
Kecintaannya terhadap eksistensi NKRI mulai merintis kemerdekaan dengan
Resolusi Jihat hingga pascakemerdekaan meniscayakan generasi kini dan mendatang untuk
meneladaninya.
Mencurah kiprah para pengkhidmat NU,
bimakna mendokumentasikan tapak-tapak perjuangan di saat ini, diharapkan dapat ditapaktilasi
generasi mendatang nan sarat tantangan. Berusaha meneladani amal ibadah
perjuangan para figur yang berada di level struktural maupun di ranah kultural.
Kontribusi pemikiran dan partisipasi
jam’iyah pun jama’ah NU bagi pembangunan Indonesia tidaklah kecil. Dengan
jumlah jutaan warga nahdliyin, keikutsertaan dalam pembangunan nasional (national
building) telah memberikan dampak signifikan dalam membawa negeri ini lebih
makmur berkeadilan sehingga diakui eksistensinya oleh dunia Internasional.
Memandang perjuangan dengan perspektif
arah ke masa depan dikandung maksud jam'iyah dan jama'ah nahdliyain menapaki masa
depan sesuai eranya sehingga tidak tergilas dinamika zaman. Bukan berarti
meninggakkan substansi pokok-pokok paham Aswaja, namun sebatas menyesuaikan strategi perjuangan
dengan mendayagunakan peradaban mutakhir. Merujuk apa yang pernah dikemukakan oleh Sayyidina Ali
Karamallahu wajhah,"Ajarilah anakmu sesuai zamannya, bukan zamanmu."
Era digital dengan segala
dinamikanya, menuntut kiprah organisasi (jam’iyah) untuk mengelola manajemennya
selaras dengan kemajuan zaman. Bagaimana mensikapi dan mendayagunakan berbagai
platform media sosial maupun kecanggihan teknologi digital. Meski NU mengelola
jam’ah yang mayoritas kalangan tradisional, namun mengelolanya dengan piranti
kecanggihan digital menjadi sebuah keniscayaan.
Menyertai terbitnya buku dengan
judul "Nahdlatul Ulama Era Digital: Kiprah PCNU Bojonegoro
dan MWCNU Baureno dalam Perspektif Sejarah", kami sampaikan apresiasi setinggi-tingginya sebagai sebuah ikhtiar keilmuan Ahlussunah wal Jama'ah.
Kepada Tim LTN yang telah susah
payah mengadakan penelusuran sejarah dan kiprah para masyayyikh nan telah
berkhidmat di jajaran PCNU Bojonegoro maupun MWCNU Baureno, kami berharap ke
depan tetap istiqamah mendokumentasikan
kiprah-kiprah Aswaja dan demi eksisnya sanad keilmuan Islam Nusantara.
Akhir kata, semoga buku ini bisa
memberikan manfaat bagi sebanyak-banyak orang. Khususnya jama’ah dan jam’iyah
NU di berbagai tingkatan, di tingkat struktural maupun di ranah kultural.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit
tharieq
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi
wabarakatuh
Bojonegoro, 13 Januari 2026
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Bojonegoro
KH. Dr. Kholid Ubed, Sp.PD
Ketua Tanfisziyah
SAMBUTAN
DIREKTUR EKSEKUTIF NU ONLINE
PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA (PBNU)
Manusia dewasa ini hidup di tengah
dunia digital yang menyimpan banyak kontradiksi. Teknologi menjanjikan
efisiensi, tetapi kerja justru terasa makin melelahkan. Hidup dipercepat
sedemikian rupa, namun waktu malah kian terasa tidak cukup. Di satu sisi,
masyarakat semakin terhubung; di sisi lain, mereka justru makin disergap
kesepian. Dunia memang bertambah global, tetapi pada saat yang sama
masyarakatnya kian rapuh secara lokal.
Pada titik inilah Nahdlatul Ulama
memikul tantangan yang tidak ringan. Sebagai organisasi yang tumbuh dari
kebudayaan Islam Nusantara yang kental, NU kini berhadapan dengan
perubahan-perubahan besar yang berpotensi menggerus rasa “berakar” warganya.
Identitas global boleh jadi menguat seiring teknologi yang kian tanpa sekat.
Namun, siapa yang dapat menjamin bahwa ikatan jamaah juga akan ikut menguat?
Bukankah yang tampak justru sebaliknya: krisis komunitas, sikap abai terhadap
ikatan masa lalu, termasuk sejarah lokal?
Karena itu, dibutuhkan ikhtiar
bersama untuk merespons tantangan ini, baik melalui penguatan literasi sejarah
maupun literasi digital. Misi utamanya ialah bagaimana warga NU tetap otentik
dengan ke-NU-annya, tanpa harus menjadi usang di tengah arus perubahan yang
begitu cepat—perubahan yang kerap mencabut ingatan kolektif dari akar
sejarahnya.
NU Online sudah memulainya sejak awal berdiri pada 2003 melalui gerakan
“Teknologi sebagai Tradisi”. Ia memperkuat usaha transformasi digital di
lingkungan NU dan secara bersamaan menancapkannya pada nilai-nilai pesantren
sebagai ruhnya. Hasilnya, berbagai produk digital terlahir hingga membuatnya
meraih penghargaan bergengsi pada 2025: AMSI Awards 2025 untuk kategori Inovasi
Produk dan Teknologi Terbaik (Product & Tech). Melalui inovasi tak
berkesudahan itu, NU Online mengedukasi
publik banyak hal, mulai dari keislaman, politik, hingga sejarah dan media
digital.
Dalam konteks itu, buku “Nahdlatul
Ulama Era Digital: PCNU Bojonegoro dan MWCNU Baureno dalam Perspektif” menjadi
sangat relevan, khususnya bagi gerakan literasi tersebut di level lokal. Kiai
Masdar Farid Mas’udi pernah berujar bahwa hakikat NU berada di tingkat bawah,
bukan di Pengurus Besar. Mengapa? Karena semakin ke bawah, kepengurusan NU
semakin bersentuhan dengan jamaah di akar rumput. Merekalah ujung tombak dari
misi besar Jam’iyyah yang memang didirikan untuk kemaslahatan umat. Jika
demikian, sang penulis, Pak Haji Suwarno, telah melakukan ikhtiar positif yang
patut diapresiasi. Bukan hanya karena ia turut memperkaya khazanah literasi
digital dan sejarah, tetapi juga pilihan subjek kajiannya yang kerap kali
dilupakan banyak orang: cabang NU dan wakil cabang NU.
Kekuatan buku salah satunya terletak
pada semangat untuk mengangkat aspek lokal dari sejarah Islam Ahlussunnah wal
Jama’ah. Penelusuran yang jeli dari sang penulis atas proses masuk Islam di Bojonegoro
juga kian meneguhkan karakter umum Islam Nusantara: adaptif pada lokalitas,
tanpa pemaksaan identitas. Ini pula yang menjadi watak asli NU yang dikenal
dengan dakwahnya yang membumi dengan tetap berpijak pada nilai universal. NU
bukan jam’iyyah elitis. Sebab, dalam sejarah pendiriannya NU sendiri tumbuh
dari komunitas pesantren dan masyarakat desa. Karakter inilah yang menjadikan
kini sebagai ormas Islam dengan jumlah anggota terbesar di Indonesia, bahkan
mungkin di dunia.
Dengan cukup baik buku ini
menjabarkan bagaimana ulama Ahlussunnah wal Jama’ah seperti Mbah Sabil dan Mbah
Hasyim (Menak Anggrung) berjuang dalam syiar Islam di Bojonegoro. Lebih dari
sekadar muballigh, para tokoh tersebut digambarkan sebagai figur yang
piawai dalam membangun jejaring ulama, sanad keilmuan, juga pesantren yang
menjadi fondasi Ahlussunnah wal Jama’ah. Ada bukti manuskrip dan pesantren yang
menegaskan bahwa tradisi keilmuan saat itu betul-betul hidup. Bahkan, Padangan
dan Kasiman disebut-sebut sebagai pusat peradaban Islam abad ke-16-19. Alhasil,
sejarah Islam Bojonegoro yang kerap hadir dalam narasi “mistik keramat”, di
buku ini datang dalam wajah berbeda: Islam di Bojonegoro berkembang dalam
tradisi intelektual pesantren yang nyata dan terdokumentasi.
Kiprah para ulama terdahulu itu
mestinya menjadi bahan refleksi generasi kini. Mereka sukses berdakwah bukan
karena lengkapnya sarana, melainkan keluasan visi dan kegigihan dalam berjuang.
Lantas, bagaimana dengan generasi NU sekarang yang konon bergelimang kemudahan oleh
canggihnya teknologi? Apakah fasilitas digital yang sanggup melipat jarak dan
meringkas waktu menjadi instrumen yang membantu atau justru penghalang?
Akhirul kalam, buku ini cukup menarik untuk dikoleksi dan ditafakuri. Banyak hal
baru dan perspektif segar yang bisa kita serap. Ia menjadi jembatan antara masa
lalu dan masa depan, juga antara tradisi dan inovasi. Terlepas dari
ketidaksempurnaannya, karya ini telah menyuguhkan sumbangan berharga: tidak
hanya mengajak kita untuk melek digital tapi juga melek sejarah dan nilai.
Mahbib Khoiron
Redaktur Eksekutif NU Online
DAFTAR
ISI
|
|
|
Halaman |
|
|
Halaman
Judul |
i |
|
|
Sekapur Sirih Penulis |
ii |
|
|
Pengantar
Ketua Tanfidziyah PCNU Bojonegoro |
iv |
|
|
Sambutan
Direktur Eksekutif NU Online PBNU Jakarta |
vi |
|
|
Daftar
Isi |
viii |
|
BAB I |
MUKADIMAH A. Sejarah Masa Lampau,
Babad dan Cerita Rakyat B. Kiprah dan Khidmat Santri-Kiai Dulu dan Kini |
1 1 3 |
|
BAB II |
BOJONEGORO DALAM LINTAS SEJARAH A. Sejarah Kabupaten Bojonegoro B. Dinamika
Bojonegoro dari Waktu ke Waktu. |
6 6 11 |
|
BAB III |
SEJARAH KEDATANGAN ISLAM DI BOJONEGORO A. Eksistensi Mbah Hasyim dan Mbah Sabil (Menak Anggrung) B.
Hikayat
Mbah Sabil dan Mbah Hasyim, Penyebar Islam di Padangan Bojonegoro C. Manuskrip
Kasiman, Fakta Sahih Besarnya Peradaban Islam di Bojonegoro D.
Pesantren Betet dan Syekh Syihabuddin E.
Sanad Ideologis dan Nasab
Genealogis Muncul Dua Ratus Tahun Sekali F. Kedung Pakuncen:
Peradaban Islam Kota Bojonegoro, Rembang, dan Tuban pada Abad 17 |
19 19 23 25 27 28 29 |
|
BAB IV |
SEJARAH BERDIRINYA NAHDLATUL ULAMA A. Sejarah Kelahiran Nahdlatul Ulama B. Diskursus Perkembangan Nahdlatul Ulama C. Nahdlatul
Ulama Bermetamorfosis Menjadi Partai Politik D.
Paradigma Nahdlatul Ulama Kembali
ke Khittah 1926 E. Pluralisme
Nahdlatul Ulama F. Momentum Satu Abad
Nahdlatul Ulama G. Dinamika Jami’yyah Nahdlatul Ulama |
35 35 39 43 47 54 62 65 |
|
BAB V |
SEJARAH LAHIR DAN KIPRAH NU DI BOJONEGORO A. Jejak Islam Era
Majapahit dan Pajang di Bojonegoro B.
Nahdlatul Ulama Lahir di Padangan Besar di Bojonegoro C.
Kiai
Rahmat Zubair Sang Organisatoris Nahdlatul Ulama D. Kiprah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Bojonegoro Masa Khidmat 2025-2030 |
70 70 74 77 80 |
|
BAB VI |
CAHAYA ISLAM DARI TIMUR BOJONEGORO A. Mbah Kramat Dandang (Thohirun al-Mudri) B. Sunan Blongsong (Banu Sumitro) C.
Eyang Mijil Bawono (Syekh Sukhi) D.
Mbah
Nyai Sri Ayu (Mbok Sri) E.
Mbah Raden Ahmad Syafi'I (Ahmad Syafi'i bin Ali Murtadho) |
94 94 98 104 105 108 |
|
BAB VII |
NAHDLATUL ULAMA BAURENO DARI MASA KE MASA A.
Mbah
Cholil Baureno B. KH. Anwar Jasri C. Habib Zen Al-Jupri D. KH. Abdul Wahid Basyar E. Kiai Abdullah F. Kiai Mudjahid Malik G. Kiai Syukri Gowok Lebaksari H. Kiai Mohammad Syukri Sraturejo I.
KH. Abu Darda’ J. KH. Agoes Chamzah AN K. Kiai Abd. Rohman L. Kiai Arinal Haq |
110 111 117 121 122 123 124 126 126 127 128 131 132 |
|
BAB VIII |
NAHDLATUL ULAMA MENYONGSONG ERA DIGITAL A.
Kiprah Majelis Cabang
Nahdlatul Ulama Baureno B. Menyongsong Era Digital |
135 135 146 |
|
|
Daftar
Pustaka |
152 |
|
|
Glosarium |
154 |
|
|
Lampiran |
156 |
|
|
Tentang Penulis |
166 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar