Sabtu, 28 Februari 2026

NAHDLATUL ULAMA ERA DIGITAL Kiprah PCNU Bojonegoro dan MWCNU Baureno Dalam Perspektif Sejarah

 


NAHDLATUL ULAMA

ERA DIGITAL

 

Kiprah PCNU Bojonegoro dan MWCNU Baureno

Dalam Perspektif Sejarah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TIM  LEMBAGA TA’LIF WAN NASYR (LTN)

MWCNU BAURENO BOJONEGORO

 

 

SEKAPUR SIRIH PENULIS

 

Sebagai sebuah ikhtiar, hadirnya buku “Nahdlatul Ulama Era Digital: Kiprah PCNU Bojonegoro dan MWCNU Baureno dalam Perspektif Sejarah” ini niscaya patut disyukuri karena Allah SWT telah memberikan kesempatan kepada tim penulis untuk merealisasikannya. Sebuah upaya menumbuhkembangkan budaya literasi  yang digagas oleh Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama MWCNU Baureno atas support Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bojonegoro.

Kehadiran buku ini juga merupakan upaya pendokumentasian kiprah para ulama atau tokoh-tokoh yang peduli akan dakwah Islam Ahlussunah wal Jama’ah dulu dan kini, sebagai sebuah legacy.

Selebihnya tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan bacaan dan pengetahuan generasi sekarang tentang jejak para pejuang Islam Aswaja yang totalitas mendedikasikan jiwa raga tanpa berharap imbalan materi maupun jabatan apapun.

Penulis berpandangan, manakala jejak kiprah para pejuang Aswaja, sekecil apapun, manakala tidak ditulis (didokumentasikan) niscaya catatan inspiratif sarat keteladanan tersebut akan terkubur waktu tertelan zaman. Karena momentum tersebut amat historis, era penuh perjuangan, hingga era  kekinian nan dinamis dan merubah banyak tatanan sosial.

Perlu diketahui oleh pembaca, bahwa isi buku ini tidak hanya murni catatan sejarah dan kiprah an sich, namun didalamnya juga terdapat cerita rakyat yang masih butuh dirunut kebenaran sejarahnya, meski telah merujuk beberapa referensi. Bimakna,  lebih mengambil nilai perjuagan dakwah para pendahulu yang penting diteladani demi membangun masa depan nan gemilang.

Pendek kata buku ini hendak merawat sejarah, mengambil nilai perjuangan pengkhidmat, sebagai bekal menumbuhkembangkan Aswaja menyongsong era penuh tantangan.  Seiring hadirnya revolusi teknologi digital dan belantara media sosial. Karena sesungguhnya perjuangan para tokoh ulama Aswaja di Bojonegoro, wabil khusus Baureno dan sekitarnya memiliki tantangan tersendiri. Perjuangan dan khidmat yang pada akhirnya berkontribusi dalam mengibarkan panji-panji Aswaja di Kabupaten Bojonegoro.

Terima kasih kepada para mahaguru, sesepuh, masyayyikh dan dzurriahnya yang berkenan diwawancarai, serta  memberikan kisah-kisah inspiratif. Sukron katsir, kepada Direktur Eksekutif NU Online PBNU Gus Mahbib Khoiron yang telah memberikan sambutan penuh ghirah. Begitu juga, matur nuwun untuk Ketua Tanfidziyah PCNU Bojonegoro KH.dr Kholid Ubaid, Sp.PD yang berkenan memberikan pengantar, serta gunging panuwun kepada Ketua MWCNU Baureno KH.Arinal Haq bersama jajaran Pengurus, Lembaga dan Banom.

Sekecil apapun, mudah-mudahan buku ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca pada umumnya dan pengkhidmat Aswaja pada khususnya. Alfakir mohon maaf manakala ada kesalahan dalam penulisan nama sebutan hingga pangkat dan jabatan. Semua itu bukan karena faktor kesengajaan namun lebih karena ketidaktahuan.

Wabakdu, segala kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan sehingga  dapat menyempurnakan buku sederhana ini di kemudian hari.

Wassalaamu ‘alaikum wr wb.

 

Bojonegoro, 7 Januari 2026

 

Nono Warnono

Ketua Tim Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGANTAR

PENGURUS CABANG NAHDLATUL ULAMA BOJONEGORO

 

Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Teriring curahan rasa syukur kepada Allah SWT menyertai terbitnya buku yang ditulis oleh Tim Lambaga Ta'lif wan Nasr MWCNU Baureno dengan mengangkat kembali sejarah lahir, kiprah dan arah Nahdlatul Ulama (NU) ke depan.

Mengangkat kembali sejarah lahirnya NU dimaknai sebagai ikhtiar mengambil nilai-nilai perjuangan dan ghirah berkhidmat di setiap era, untuk penyemangat memperjuangkan paham Aswaja dimasa kini dan mendatang. Sekaligus menginternalisasi (menanamkan) nilai, jangan sampai nahdliyin melupakan sejarah perjuangan para pengkhidmat NU di masa lalu, jangan sampai generasi kini dan mendatang ahistoris (anti sejarah).

Para muassis seperti KH.Hasyim As’ari, KH. Wahab Chasbullah, KH.Bisri Syansuri dan para pendiri serta pejuang di masa lalu adalah figur-figur peletak dasar paham Ahlussunah wal Jama’ah yang sejarahnya senantiasa menginspirasi pengkhidmat Aswaja kini dan mendatang. Kecintaannya terhadap eksistensi NKRI mulai merintis kemerdekaan dengan Resolusi Jihat hingga pascakemerdekaan meniscayakan generasi kini dan mendatang untuk meneladaninya.

Mencurah kiprah para pengkhidmat NU, bimakna mendokumentasikan tapak-tapak perjuangan di saat ini, diharapkan dapat ditapaktilasi generasi mendatang nan sarat tantangan. Berusaha meneladani amal ibadah perjuangan para figur yang berada di level struktural maupun di ranah kultural.

Kontribusi pemikiran dan partisipasi jam’iyah pun jama’ah NU bagi pembangunan Indonesia tidaklah kecil. Dengan jumlah jutaan warga nahdliyin, keikutsertaan dalam pembangunan nasional (national building) telah memberikan dampak signifikan dalam membawa negeri ini lebih makmur berkeadilan sehingga diakui eksistensinya oleh dunia Internasional.

Memandang perjuangan dengan perspektif arah ke masa depan dikandung maksud jam'iyah dan jama'ah nahdliyain menapaki masa depan sesuai eranya sehingga tidak tergilas dinamika zaman. Bukan berarti meninggakkan substansi pokok-pokok paham Aswaja, namun sebatas menyesuaikan strategi perjuangan dengan mendayagunakan peradaban mutakhir. Merujuk apa yang pernah dikemukakan oleh Sayyidina Ali Karamallahu wajhah,"Ajarilah anakmu sesuai zamannya, bukan zamanmu."

Era digital dengan segala dinamikanya, menuntut kiprah organisasi (jam’iyah) untuk mengelola manajemennya selaras dengan kemajuan zaman. Bagaimana mensikapi dan mendayagunakan berbagai platform media sosial maupun kecanggihan teknologi digital. Meski NU mengelola jam’ah yang mayoritas kalangan tradisional, namun mengelolanya dengan piranti kecanggihan digital menjadi sebuah keniscayaan.

Menyertai terbitnya buku dengan judul "Nahdlatul Ulama Era Digital: Kiprah PCNU Bojonegoro dan MWCNU Baureno dalam Perspektif Sejarah", kami sampaikan apresiasi setinggi-tingginya sebagai sebuah ikhtiar keilmuan Ahlussunah wal Jama'ah.

Kepada Tim LTN yang telah susah payah mengadakan penelusuran sejarah dan kiprah para masyayyikh nan telah berkhidmat di jajaran PCNU Bojonegoro maupun MWCNU Baureno, kami berharap ke depan  tetap istiqamah mendokumentasikan kiprah-kiprah Aswaja dan demi eksisnya sanad keilmuan Islam Nusantara.

Akhir kata, semoga buku ini bisa memberikan manfaat bagi sebanyak-banyak orang. Khususnya jama’ah dan jam’iyah NU di berbagai tingkatan, di tingkat struktural maupun di ranah kultural.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Bojonegoro, 13 Januari 2026

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Bojonegoro

 

 

KH. Dr. Kholid Ubed, Sp.PD

Ketua Tanfisziyah

 

 

 

 

 

SAMBUTAN

DIREKTUR EKSEKUTIF NU ONLINE

PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA (PBNU)

 

 

Manusia dewasa ini hidup di tengah dunia digital yang menyimpan banyak kontradiksi. Teknologi menjanjikan efisiensi, tetapi kerja justru terasa makin melelahkan. Hidup dipercepat sedemikian rupa, namun waktu malah kian terasa tidak cukup. Di satu sisi, masyarakat semakin terhubung; di sisi lain, mereka justru makin disergap kesepian. Dunia memang bertambah global, tetapi pada saat yang sama masyarakatnya kian rapuh secara lokal.

Pada titik inilah Nahdlatul Ulama memikul tantangan yang tidak ringan. Sebagai organisasi yang tumbuh dari kebudayaan Islam Nusantara yang kental, NU kini berhadapan dengan perubahan-perubahan besar yang berpotensi menggerus rasa “berakar” warganya. Identitas global boleh jadi menguat seiring teknologi yang kian tanpa sekat. Namun, siapa yang dapat menjamin bahwa ikatan jamaah juga akan ikut menguat? Bukankah yang tampak justru sebaliknya: krisis komunitas, sikap abai terhadap ikatan masa lalu, termasuk sejarah lokal?

Karena itu, dibutuhkan ikhtiar bersama untuk merespons tantangan ini, baik melalui penguatan literasi sejarah maupun literasi digital. Misi utamanya ialah bagaimana warga NU tetap otentik dengan ke-NU-annya, tanpa harus menjadi usang di tengah arus perubahan yang begitu cepat—perubahan yang kerap mencabut ingatan kolektif dari akar sejarahnya.

NU Online sudah memulainya sejak awal berdiri pada 2003 melalui gerakan “Teknologi sebagai Tradisi”. Ia memperkuat usaha transformasi digital di lingkungan NU dan secara bersamaan menancapkannya pada nilai-nilai pesantren sebagai ruhnya. Hasilnya, berbagai produk digital terlahir hingga membuatnya meraih penghargaan bergengsi pada 2025: AMSI Awards 2025 untuk kategori Inovasi Produk dan Teknologi Terbaik (Product & Tech). Melalui inovasi tak berkesudahan itu, NU Online  mengedukasi publik banyak hal, mulai dari keislaman, politik, hingga sejarah dan media digital.

Dalam konteks itu, buku “Nahdlatul Ulama Era Digital: PCNU Bojonegoro dan MWCNU Baureno dalam Perspektif” menjadi sangat relevan, khususnya bagi gerakan literasi tersebut di level lokal. Kiai Masdar Farid Mas’udi pernah berujar bahwa hakikat NU berada di tingkat bawah, bukan di Pengurus Besar. Mengapa? Karena semakin ke bawah, kepengurusan NU semakin bersentuhan dengan jamaah di akar rumput. Merekalah ujung tombak dari misi besar Jam’iyyah yang memang didirikan untuk kemaslahatan umat. Jika demikian, sang penulis, Pak Haji Suwarno, telah melakukan ikhtiar positif yang patut diapresiasi. Bukan hanya karena ia turut memperkaya khazanah literasi digital dan sejarah, tetapi juga pilihan subjek kajiannya yang kerap kali dilupakan banyak orang: cabang NU dan wakil cabang NU.

Kekuatan buku salah satunya terletak pada semangat untuk mengangkat aspek lokal dari sejarah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Penelusuran yang jeli dari sang penulis atas proses masuk Islam di Bojonegoro juga kian meneguhkan karakter umum Islam Nusantara: adaptif pada lokalitas, tanpa pemaksaan identitas. Ini pula yang menjadi watak asli NU yang dikenal dengan dakwahnya yang membumi dengan tetap berpijak pada nilai universal. NU bukan jam’iyyah elitis. Sebab, dalam sejarah pendiriannya NU sendiri tumbuh dari komunitas pesantren dan masyarakat desa. Karakter inilah yang menjadikan kini sebagai ormas Islam dengan jumlah anggota terbesar di Indonesia, bahkan mungkin di dunia.

Dengan cukup baik buku ini menjabarkan bagaimana ulama Ahlussunnah wal Jama’ah seperti Mbah Sabil dan Mbah Hasyim (Menak Anggrung) berjuang dalam syiar Islam di Bojonegoro. Lebih dari sekadar muballigh, para tokoh tersebut digambarkan sebagai figur yang piawai dalam membangun jejaring ulama, sanad keilmuan, juga pesantren yang menjadi fondasi Ahlussunnah wal Jama’ah. Ada bukti manuskrip dan pesantren yang menegaskan bahwa tradisi keilmuan saat itu betul-betul hidup. Bahkan, Padangan dan Kasiman disebut-sebut sebagai pusat peradaban Islam abad ke-16-19. Alhasil, sejarah Islam Bojonegoro yang kerap hadir dalam narasi “mistik keramat”, di buku ini datang dalam wajah berbeda: Islam di Bojonegoro berkembang dalam tradisi intelektual pesantren yang nyata dan terdokumentasi.

Kiprah para ulama terdahulu itu mestinya menjadi bahan refleksi generasi kini. Mereka sukses berdakwah bukan karena lengkapnya sarana, melainkan keluasan visi dan kegigihan dalam berjuang. Lantas, bagaimana dengan generasi NU sekarang yang konon bergelimang kemudahan oleh canggihnya teknologi? Apakah fasilitas digital yang sanggup melipat jarak dan meringkas waktu menjadi instrumen yang membantu atau justru penghalang?

Akhirul kalam, buku ini cukup menarik untuk dikoleksi dan ditafakuri. Banyak hal baru dan perspektif segar yang bisa kita serap. Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, juga antara tradisi dan inovasi. Terlepas dari ketidaksempurnaannya, karya ini telah menyuguhkan sumbangan berharga: tidak hanya mengajak kita untuk melek digital tapi juga melek sejarah dan nilai.

 

 

Mahbib Khoiron

Redaktur Eksekutif NU Online

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

 

Halaman

 

Halaman Judul

i

 

Sekapur Sirih Penulis

ii

 

Pengantar Ketua Tanfidziyah PCNU Bojonegoro

iv

 

Sambutan Direktur Eksekutif NU Online PBNU Jakarta

vi

 

Daftar Isi                                          

viii

BAB I

MUKADIMAH

A.     Sejarah Masa Lampau, Babad dan Cerita Rakyat

B.     Kiprah dan Khidmat Santri-Kiai Dulu dan Kini

1

1

3

BAB II

BOJONEGORO DALAM LINTAS SEJARAH

A.    Sejarah Kabupaten Bojonegoro

B.     Dinamika Bojonegoro dari Waktu ke Waktu.

6

6

11

BAB III

SEJARAH KEDATANGAN ISLAM DI BOJONEGORO

A.    Eksistensi Mbah Hasyim dan Mbah Sabil (Menak Anggrung)

B.     Hikayat Mbah Sabil dan Mbah Hasyim, Penyebar Islam di Padangan Bojonegoro

C.     Manuskrip Kasiman, Fakta Sahih Besarnya Peradaban Islam di Bojonegoro

D.    Pesantren Betet dan Syekh Syihabuddin

E.     Sanad Ideologis dan Nasab Genealogis Muncul Dua Ratus Tahun Sekali

F.      Kedung Pakuncen: Peradaban Islam Kota Bojonegoro, Rembang, dan Tuban pada Abad 17

19

19

 

23

25

27

28

 

29

BAB IV

SEJARAH BERDIRINYA NAHDLATUL ULAMA

A.    Sejarah Kelahiran Nahdlatul Ulama

B.     Diskursus Perkembangan Nahdlatul Ulama

C.    Nahdlatul Ulama Bermetamorfosis Menjadi Partai Politik

D.    Paradigma Nahdlatul Ulama Kembali ke Khittah 1926

E.     Pluralisme Nahdlatul Ulama

F.      Momentum Satu Abad Nahdlatul Ulama

G.    Dinamika Jamiyyah Nahdlatul Ulama

35

35

39

43

47

54

62

65

BAB V

SEJARAH LAHIR DAN KIPRAH NU DI BOJONEGORO

A.    Jejak Islam Era Majapahit dan Pajang di Bojonegoro

B.     Nahdlatul Ulama Lahir di Padangan Besar di Bojonegoro

C.     Kiai Rahmat Zubair Sang Organisatoris Nahdlatul Ulama

D.    Kiprah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Bojonegoro Masa Khidmat 2025-2030

70

70

74

77

80

BAB VI

CAHAYA ISLAM DARI TIMUR BOJONEGORO

A.    Mbah Kramat Dandang (Thohirun al-Mudri)

B.     Sunan Blongsong (Banu Sumitro)

C.     Eyang Mijil Bawono (Syekh Sukhi)

D.    Mbah Nyai Sri Ayu (Mbok Sri)

E.     Mbah Raden Ahmad Syafi'I (Ahmad Syafi'i bin Ali Murtadho)

94

94

98

104

105

108

BAB VII

NAHDLATUL ULAMA  BAURENO DARI MASA KE MASA

A.    Mbah Cholil Baureno

B.     KH. Anwar Jasri

C.     Habib Zen Al-Jupri

D.    KH. Abdul Wahid Basyar

E.     Kiai Abdullah

F.      Kiai Mudjahid Malik

G.    Kiai Syukri Gowok Lebaksari

H.    Kiai Mohammad Syukri Sraturejo

I.        KH. Abu Darda

J.       KH. Agoes Chamzah AN

K.    Kiai Abd. Rohman

L.     Kiai Arinal Haq

110

111

117

121

122

123

124

126

126

127

128

131

132

BAB VIII

NAHDLATUL ULAMA MENYONGSONG ERA DIGITAL

A.    Kiprah Majelis Cabang Nahdlatul Ulama Baureno

B.     Menyongsong Era Digital

135

135

146

 

Daftar  Pustaka

152

 

Glosarium

154

 

Lampiran

156

 

Tentang Penulis

166

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar