Cakrawala
Sehimpun cerita pendek yang dirajut
dalam Menyulam Bianglala ini sebagai ikhtiar mendokumentasikan berbagai
cerita pendek yang telah dimuat di berbagai media, menjadi sebuah buku yang
diharap meninggalkan legacy, sekurang-kurangnya bagi pengarangnya. Senyampang
dapat dibaca, manakala ada yang berminat, sehingga menuai manfaat sekecil
apapun.
Meski penulis telah banyak menerbitkan
buku-buku sastra dalam bahasa Jawa (geguritan, crita cekak, dan cermis), untuk
karya sastra dalam bahasa Indonesia, ini adalah buku sastra yang keempat
setelah kumpulan puisi : Nyanyian Bidadari (2018), Meruat Halaman
Belakang (2019), dan Lelaki dalam Rembulan (2020).
Antologi cerita pendek (cerpen) Menyulam Bianglala
sebagai kristalisasi dari sehimpun karya sehingga membentuk makna.
Cerita-cerita penanda perjalanan hidup anak manusia dari sebuah keteraturan
kecil (mikrocosmos) sebagai hamba dhaif. Demi untuk mencapai sublim atas
keteraturan besar (makrocosmos). Bimakna, manusia tidak hanya hidupa dalam
kesementaraan dunia, namun ada keabadian kehidupan sesudah mati.
Meski cerita, karya sastra ini bukan hanya permainan kata
pun imajinasi ansich, namun ada perspektif realita hidup yang tersulam dalam
lembaran karya-karya yang telah lama diendapkan untuk mencapai puncak
perenungan nan sublim.
Karya ini dipersembahan untuk biyung Rasmi, yang senantiasa
merindukan mencurah kasih sayang serta menuntun jalan keutamaan. Istriku
Lilik Endang Wardiningsih, dan anak semata wayang Laras Gupitasari yang selalu
membuka dan menjaga pintu cinta sehingga hidup terasa indah bianglala cahaya demi
bersama menghamba kepada Allah SWT.
Terimakasih untuk bapa J.F.X Hoery dan saudara Nanang
Fahrudin yang telah memberi support atas lahirnya buku ini. Sastrawan Herry
Abdi Gusti nan ajeg ngopi menuai inspirasi, penyair Mas Gampang Prawoto pencurah
catatan pepeling. Serta sedulur Kohar
Herlambang, dan Mutitah, saudara sekandung yang turut membersamai perjalanan
panjang.
Semoga buku sederhana ini ada manfaatnya sekecil apapun
bagi penulis dan pembaca yang budiman.
Bojonegoro, Mei 2025
Nono Warnono
Sinaran
Merah
Kuning Hijau Di Langit Yang Biru
Antologi "Menyulam Bianglala"
27 karya cerita pendek dari saudara tua saya, Nono Warnono, membuat kita
seperti diajak menyulam bianglala
sungguhan, menjadi warna-warni pelangi yang sedap dipandang dan sangat menarik
hati.
Di dalamnya kita bisa menyelami
kegelisahan seorang penulis yang menyaksikan pelbagai peristiwa kehidupan. Dari
kehampaan jiwa yang berada pada titik nadhir darurat, sehingga dibutuhkan
tetesan embun religiusitas berupa pendekatan diri kepada sang maha aji. Teknik
pengajian umum tidak kita temukan dalam karya religi Nono Warnono, tetapi kita
diajak menyelam bersama, tenggelam dalam ritme penyentuhan kalbu. Dengan
menyelam bersama ini tidak terasa adanya pengguruan dari penulis, bahwa bertemu
Sang Maha tidaklah kaku, memosisikan diri sebagai wadah kosong yang ternganga
mengharap dituangi air jernih.
Sama halnya dengan cerpen kritik
sosialnya, Nono Warnono mencubit tanpa terasa sakit. justru si terimbas kritik
akan ikut berlagak seperti pengritik. ikut menuding tokoh terkritik di dalam
cerita. Itulah Nono Warnono, asam garam yang direguknya dalam khazanah Sastra
Jawa selama puluhan tahun telah membuatnya matang, terutama dalam menyuguhkan
sajian kisah berbau keluh kesah. Keresahan menyaksikan dan menghadapi
kebobrokan, abrasi moral, kedurjanaan,
ketidakadilan, ketakjujuran, kesilangsengkarutan sistem kemasyarakatan,
serta kehidupan berbangsa dan bernegara.#
Herry Abdi Gusti, (Sastrawan, teman
ngopi)
Potret Rasa Warna Batin Kehidupan
Kehidupan itu renik, kita bisa memandang
hanya dengan batas kemampuan kita. Bila penglihatan sebatas pandang mata berarti yang tampak hanyalah sisi luaran
saja. Sangatlah berbeda bila kita mampu masuk pada kedalaman serat titik galih
dengan berbagai perspektik yang berbeda baik visual atau konseptual, karena
dari serat-serat itulah kita akan mampu memahami arti hidup dan kehidupan
sesungguhnya.
Seperti yang tersurat dalam antologi
cerita pendek "Menyulam Bianglala" ini
Mas Kaji Nono Suwarno membidik kedalaman
warna hidup dengan potret rasa yang syarat akan makna.
Indahnya pelangi tak seindah perjalanan
hidup karena hidup yang sesungguhnya proses dari sebuah keinginan untuk menjadi
lebih baik sebagai kebutuhan lahiriah dan pemenuhan batiniah dari ego yang
tersembunyi seperti halnya bianglala akan muncul setelah hujan badai berlalu.
Seperti cuplikan dialog dalam Perempuan
Penjual rembulan:
"Pik, bunga yang mekar harum
semerbak itu ada masa layunya. Segeralah membuka hatimu saat bunga belun
mengering seiring waktu," Mas Ji
Nono, mengisyaratkan bahwasanya hidup ditentukan oleh waktu karena hidup tidak
mampu menentukan waktunya itu sendiri, semua proses hehidupan tidak bisa terulang
dan diulang begitu saja karena jagad itu berputar sesuai garis edar kodradnya.
Dalam cerpen-cerpenya Mas Ji Nono mengarsir bahwa hidup itu lika-liku jalan
dengan terjal-curamnya bebatuan yang harus dilalui dengan daya upaya dan tetap
melakoni peran hidup dengan bersandar pada naskah yang maha sutradara. Luas
samudra pengalaman hidup penulis sangat mewarnai potret langit yang berhiaskan
kerlip bintang, temaramya bulan, gelap tebalnya awan dan indahnya bianglala
dengan tetap berpijak pada realita bumi untuk terus melanjutkan panggung
kehidupan
Mas Kaji Nono menyurat dan tersirat
sebuah kaledoskop degradasi mental yang terus mengikis peradaban kehidupan dari
nalar dan rasa. Ego dan superego, kesenjangan pemikiran, kesenjangan akal
melandasi terkesampingkannya nurani, moral dan etika, norma nilai-nilai tradisi
yang mulai asing bahkan tercabut dari akar kultur masyarakatnya sendiri
mengakibatkan sedimen-sedimen konflik rasa dan konflik batin.
Masgampang Prawoto (Penyair, teman
berburu inspirasi)
DAFTAR ISI
|
|
|
Halaman |
|
|
Cover Buku……………………....…………………...................................... |
i |
|
|
Cakrawala………………………………………………………………… |
ii |
|
|
Sinaran.................................………………………………………………… |
iii |
|
|
Daftar
Isi...................……………..………………………………………..... |
iv |
|
1. |
Kaji Mardud ........................……………………………………………….. |
1 |
|
2. |
Perempuan Penjual
Rembulan……………………………………………… |
7 |
|
3. |
Rembulan Tertusuk
Ilalang…………………….……………………............ |
13 |
|
4. |
La Tahzan....…………………………………………………........................ |
19 |
|
5. |
Ki Surub Carito………………………………………………....................... |
26 |
|
6. |
Kabut di Haramain……………………………………………...………....... |
32 |
|
7. |
Beirut........………..……………………………………………………….... |
38 |
|
8. |
Jalan Lain Menuju Surau…………………………………………………..... |
42 |
|
9. |
Nirwana............... ……………………..………………………………......... |
48 |
|
10. |
Sumur…………………………………………………………………......... |
52 |
|
11. |
Pasar...............................................……………………………………........ |
57 |
|
12. |
Hantu......…………………………………………………………………... |
63 |
|
13. |
Labirin…..…………………………………………………......................... |
69 |
|
14. |
Tikus ........................................................................................................... |
73 |
|
15. |
Copet.......................
........................................................................................ |
79 |
|
16. |
Ayam Sayur...................................................................................................... |
84 |
|
17. |
Lungsuran...................................................................................................... |
89 |
|
18. |
Sang
Profesor................................................................................................ |
95 |
|
19. |
Pramugari..................................................................................................... |
101 |
|
20. |
Mister -X...................................................................................................... |
107 |
|
21. |
Gendam........................................................................................................ |
113 |
|
22. |
Perhelatan..................................................................................................... |
118 |
|
23. |
Kontestasi Antah Barantah........................................................................... |
124 |
|
24. |
Mahar............................................................................................................ |
130 |
|
25. |
Persekongkolan............................................................................................. |
136 |
|
26. |
Bharata Yuda................................................................................................... |
140 |
|
27. |
Panakawan...................................................................................................... |
146 |
|
|
Tentang Penulis.............................................................................................. |
151 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar