TRANSFORMASI IMLEK DAN PUASA DIGITAL
Oleh : Nono Warnono
Momentum perayaan imlek yang berimpitan dengan awal bulan Ramadhan 1447 H, menciptakan
suasana spiritual dengan nuansa masing-masing. Imlek erat dengan warna merah, pajangan lampion-lampion,
lagu-lagu mandarin maupun barongsai. Sementara menjelang puasa Ramadhan
umat Islam menandai dengan "megengan" kirim doa, ziarah kubur,
bersih-bersih mkam dan sejenisnya.
Yang mempertemukan kesamaan momentum keduanya adalah agendanya berada pada
jaman yang sama, yakni era postmodern dan era digital. Imlek tidak semata
perayaan.keagamaan an sick, tetapi telah bertransformasi menjadi komoditas budaya yang
ditampilkan sebagai bagian dari pesta nan komersial. Sementara perspektif
puasa Ramadhan juga bergeser pada nuansa konsumtif dalam banyak hal. Di era digital momentum keduanya juga menghadapi situasi dan kondisi yang
sama, yakni maraknya media sosial di jagat digital.
Sebagai sebuah fenomena social, imlek telah
bertransformasi bukan lagi sekedar perayaan tradisi, tetapi telah menjadi
komoditas ekonomi yang masif. Aktifitas yang lebih cenderung menonjolkan
estetika daripada norma tradisi, menjadi representasi kapitalisme budaya.
Tradisi yang bernilai simbolik penghormatan leluhur dan asa keberuntungan,
telah mengalami komodifikasi. Terjadi pergeseran sosial yang kontras, bukan
lagi sebagai perayaan kultural atau sepiritual namun telah bermetamorfosis
menjadi gaya hidup. Sebuah perayaan yang disinyalir telah kehilangan
kedalaman makna dan substansi religiusitas.
Pada momentum puasa Ramadhan, era postmodern dan era digital juga
mengalami reduksi pergeseran makna. Religiusitas shaum yang sejatinya mengatur
pola makan sehingga ada nilai empati kaum duafa, menjadi pesta makan yang
digeser jadwalnya. Makna efisiensi kesederhanaan hidup, yang oleh Imam
Al-Ghazali disebut menghindari Al-Khinjir (jeremban), justru menjadi atifitas yang konsumtif.
Momentum eligious di Tengah
Kebisingan Media Sosial Era Digital
Dalam interaksi vertikal religius, masyarakat postmodern kalangan Tionghoa selama ini benar-benar mengandung nuansa
spiritual, Imlek yang identik dengan Angpao
yang sedari dulu disimbulkan sebagai berkat dan harapan, kini cenderung
lebih dinilai nominalnya bukan ketulusan budayanya yang adiluhung.
Di zaman hiruk pikuk era digital, imlek bertranspormasi menjadi pesta ulang
taun, difoto maupun divideo lalu diunggah di media social, untuk
mendapatkan jempol (like) dari para netizen di dunia ratmaya.
Memang sebagai ritual budaya imlek niscaya beradaptasi dengan
dinamika zaman. Menjadikan imlek sebagai perayaan meriah memang tidak salah.
Namun merayakan di era kapitalisme, menuntut untuk bertindak bijak.
Menggerakkan kemeriahan dengan aktifitas ekonomi baik-baik saja.
Tetapi mengabaikan esensi tradisi sejatinya adalah sebuah kehilangan besar.
Demikian juga yang terjadi pada puasa di bulan suci Ranadhan.
Suasana religiusitas yang disyariatkan puasa dengan membatasi konsumerisme
justru berkebalikan. Makan minum lebih banyak yang dikonsumsi di saat puasa.
Hanya jadwalnya yang berbeda (beebuka dan sahur). Puasa yang sejatinya edukadi
hidup efisien, justru berlebihan. Lihatlah mall dan area perbelanjaan di akhir
Ramadhan, penuh dengan orang berburu pakaian baru.
Pertanyaan yang mengemuka adalah, apakah fenomena ini salah? Tentu
tidak ada yang salah, karena kondisi ini di satu sisi mengangkat nilai ekonomi
masyarakat. Meski pada dimensi lain mereduksi nilai religiusitas puasa
Ramadhan menuju jalan
rohani mendekat Ilahi Rabbi.
Perspektif lain momen menemukan kesamaan
fenomena imlek dan puasa adalah pada lokasi, yakni di aras media sosial era
digital yang narsisnya masyarakat atas laku tradisi dan ibadahnya.
Momentum berbuka dan sahur menjadi ajang foto pun video yang
diunggah di medsos. Demikian juga tarawih, pernik-pernik berbagai kejadian
membuncah secara virtual. Ibadah yang bermakna transenden kepada Allah, lebih
sebagai seremonial di media sosial.
Memang dinamika kehidupan di era digital pun media soaial telah
mengubah segala dimensi sosial. Namun bagi umat Islam yang sedang ritual puasa
di bulan Ramadhan hendaknya bijak dalam mengelola transportasi tersebut.
Alangkah indahnya manakala dapat puasa digital. Bimakna, tidak anti media sosial,
namun memanfaatkannya secara bijaksana adalah sebuah keniscayaan.

Nono Warnono, Pegiat
pendidikan, sastra dan sosial budaya di Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro
(PSJB).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar