Sabtu, 21 Februari 2026

TRANSFORMASI IMLEK DAN PUASA DIGITAL


 

TRANSFORMASI IMLEK DAN PUASA DIGITAL

Oleh : Nono Warnono

 

Momentum perayaan imlek yang berimpitan dengan awal bulan Ramadhan 1447 H, menciptakan suasana spiritual dengan nuansa masing-masing. Imlek erat dengan warna merah, pajangan lampion-lampion, lagu-lagu mandarin maupun barongsai. Sementara menjelang puasa Ramadhan umat Islam menandai dengan "megengan" kirim doa, ziarah kubur, bersih-bersih mkam dan sejenisnya.

Yang mempertemukan kesamaan momentum keduanya adalah agendanya berada pada jaman yang sama, yakni era postmodern dan era digital. Imlek tidak semata perayaan.keagamaan an sick, tetapi telah bertransformasi menjadi komoditas budaya yang ditampilkan sebagai bagian dari pesta nan komersial. Sementara perspektif puasa  Ramadhan juga bergeser pada nuansa konsumtif dalam banyak hal. Di era digital momentum keduanya juga menghadapi situasi dan kondisi yang sama, yakni maraknya media sosial di jagat digital.

Sebagai sebuah fenomena social, imlek telah bertransformasi bukan lagi sekedar perayaan tradisi, tetapi telah menjadi komoditas ekonomi yang masif. Aktifitas yang lebih cenderung menonjolkan estetika daripada norma tradisi, menjadi representasi kapitalisme budaya. Tradisi yang bernilai simbolik penghormatan leluhur dan asa keberuntungan, telah mengalami komodifikasi. Terjadi pergeseran sosial yang kontras, bukan lagi sebagai perayaan kultural atau sepiritual namun telah bermetamorfosis menjadi gaya hidup. Sebuah perayaan yang disinyalir telah kehilangan kedalaman makna dan substansi religiusitas.

Pada momentum puasa Ramadhan, era postmodern dan era digital juga mengalami reduksi pergeseran makna. Religiusitas shaum yang sejatinya mengatur pola makan sehingga ada nilai empati kaum duafa, menjadi pesta makan yang digeser jadwalnya. Makna efisiensi kesederhanaan hidup, yang oleh Imam Al-Ghazali disebut menghindari Al-Khinjir (jeremban), justru menjadi atifitas yang konsumtif.

 

Momentum eligious di Tengah Kebisingan Media Sosial Era Digital

Dalam interaksi vertikal religius, masyarakat postmodern kalangan Tionghoa selama ini benar-benar mengandung nuansa spiritual, Imlek yang identik dengan Angpao yang sedari dulu disimbulkan sebagai berkat dan harapan, kini cenderung lebih dinilai nominalnya bukan ketulusan budayanya yang adiluhung.

Di zaman hiruk pikuk era digital, imlek bertranspormasi menjadi pesta ulang taun, difoto maupun divideo lalu diunggah di media social, untuk mendapatkan jempol (like) dari para netizen di dunia ratmaya.

Memang sebagai ritual budaya imlek niscaya beradaptasi dengan dinamika zaman. Menjadikan imlek sebagai perayaan meriah memang tidak salah. Namun merayakan di era kapitalisme, menuntut untuk bertindak bijak. Menggerakkan kemeriahan dengan aktifitas ekonomi baik-baik saja. Tetapi mengabaikan esensi tradisi sejatinya adalah sebuah kehilangan besar.

Demikian juga yang terjadi pada puasa di bulan suci Ranadhan. Suasana religiusitas yang disyariatkan puasa dengan membatasi konsumerisme justru berkebalikan. Makan minum lebih banyak yang dikonsumsi di saat puasa. Hanya jadwalnya yang berbeda (beebuka dan sahur). Puasa yang sejatinya edukadi hidup efisien, justru berlebihan. Lihatlah mall dan area perbelanjaan di akhir Ramadhan, penuh dengan orang berburu pakaian baru.

Pertanyaan yang mengemuka adalah, apakah fenomena ini salah? Tentu tidak ada yang salah, karena kondisi ini di satu sisi mengangkat nilai ekonomi masyarakat. Meski pada dimensi lain mereduksi nilai religiusitas puasa Ramadhan menuju jalan rohani mendekat Ilahi Rabbi.

Perspektif lain momen menemukan kesamaan fenomena imlek dan puasa adalah pada lokasi, yakni di aras media sosial era digital yang narsisnya masyarakat atas laku tradisi dan ibadahnya.

Momentum berbuka dan sahur menjadi ajang foto pun video yang diunggah di medsos. Demikian juga tarawih, pernik-pernik berbagai kejadian membuncah secara virtual. Ibadah yang bermakna transenden kepada Allah, lebih sebagai seremonial di media sosial.

Memang dinamika kehidupan di era digital pun media soaial telah mengubah segala dimensi sosial. Namun bagi umat Islam yang sedang ritual puasa di bulan Ramadhan hendaknya bijak dalam mengelola transportasi tersebut. Alangkah indahnya manakala dapat puasa digital. Bimakna, tidak anti media sosial, namun memanfaatkannya secara bijaksana adalah sebuah keniscayaan.

 

Nono Warnono, Pegiat pendidikan, sastra dan sosial budaya di Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar